PADA fase tanggap darurat, Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang bekerja nyaris tanpa jeda.
Posko pengungsian dibangun di berbagai titik. Dapur umum diaktifkan. Distribusi logistik dilakukan siang dan malam.
Tantangan terbesar bukan hanya banjir.
Tetapi luasnya wilayah terdampak dan lumpuhnya akses transportasi.
Di sejumlah titik, bantuan hanya bisa dikirim menggunakan boat.
Bupati bersama jajaran pemerintah daerah harus memastikan makanan, air bersih, dan obat-obatan tetap tersedia bagi masyarakat.
Dalam fase ini, sejumlah stakeholder disebut paling konsisten mendampingi Pemkab Aceh Tamiang.
Mulai dari TNI, Polri, BPBD Aceh Tamiang, BPBA, BNPB, Basarnas, tenaga kesehatan, ORARI, RAPI, relawan kemanusiaan, organisasi sosial, hingga tokoh masyarakat kampung.
TNI dan Polri membantu evakuasi warga menggunakan perahu karet dan boat. Tenaga kesehatan berjibaku mencegah penyebaran penyakit pascabanjir. Relawan mendistribusikan bantuan ke wilayah terisolasi.
Sementara ORARI dan RAPI memastikan komunikasi tidak benar-benar mati.
Di tengah kondisi itu, tidak sedikit aparatur pemerintah yang tetap bekerja meski rumah mereka sendiri ikut terendam.
Ada pegawai yang kehilangan kendaraan. Ada aparat kampung yang keluarganya ikut mengungsi. Namun pelayanan tetap berjalan.















