Dari Lumpur dan Arus Deras, Armia Pahmi Menata Kembali Aceh Tamiang

Karena bagi mereka, Aceh Tamiang tidak boleh dibiarkan lumpuh terlalu lama.

Lumpur, Kayu, dan Bau Kehancuran

KETIKA air mulai surut, Aceh Tamiang berubah menjadi hamparan lumpur.

Kayu-kayu besar menumpuk di pemukiman warga. Sampah berserakan. Banyak rumah rusak berat. Jalan-jalan tertutup material banjir.

Bau lumpur dan kayu basah memenuhi udara.

BACA JUGA...  Polres Tangkap Dua Kilogram Narkotika Jenis Sabu di Aceh Tamiang

Di sejumlah titik, warga harus berjalan melewati lumpur setinggi lutut hanya untuk memeriksa sisa rumah mereka.

Ada yang menemukan perabot rumah tangga hancur. Ada yang hanya menemukan pondasi rumah yang tersisa.

Sebagian menangis diam-diam.

Karena bukan hanya bangunan yang hilang, tetapi juga kenangan hidup mereka.

Pemkab Aceh Tamiang kemudian memasuki fase pemulihan awal.

BACA JUGA...  Bupati Armia dan Rumah yang Hampir Runtuh

Alat berat mulai dikerahkan. Jalan dibersihkan. Drainase dibuka. Sekolah dan fasilitas umum dipulihkan.

Pasar tradisional dibersihkan agar roda ekonomi kembali bergerak.

Gotong royong menjadi pemandangan sehari-hari.

Aparat pemerintah, TNI, Polri, relawan, dan masyarakat bekerja bersama membersihkan Aceh Tamiang dari lumpur.

Namun pekerjaan paling sulit sesungguhnya bukan membersihkan lumpur.

Melainkan memulihkan mental masyarakat.

BACA JUGA...  ACEH TAMIANG YANG RETAK DAN MEREKA YANG MEMILIH HADIR

Trauma yang Tidak Terlihat

BENCANA tidak hanya merusak bangunan.