Karena bagi mereka, Aceh Tamiang tidak boleh dibiarkan lumpuh terlalu lama.
Lumpur, Kayu, dan Bau Kehancuran
KETIKA air mulai surut, Aceh Tamiang berubah menjadi hamparan lumpur.
Kayu-kayu besar menumpuk di pemukiman warga. Sampah berserakan. Banyak rumah rusak berat. Jalan-jalan tertutup material banjir.
Bau lumpur dan kayu basah memenuhi udara.
Di sejumlah titik, warga harus berjalan melewati lumpur setinggi lutut hanya untuk memeriksa sisa rumah mereka.
Ada yang menemukan perabot rumah tangga hancur. Ada yang hanya menemukan pondasi rumah yang tersisa.
Sebagian menangis diam-diam.
Karena bukan hanya bangunan yang hilang, tetapi juga kenangan hidup mereka.
Pemkab Aceh Tamiang kemudian memasuki fase pemulihan awal.
Alat berat mulai dikerahkan. Jalan dibersihkan. Drainase dibuka. Sekolah dan fasilitas umum dipulihkan.
Pasar tradisional dibersihkan agar roda ekonomi kembali bergerak.
Gotong royong menjadi pemandangan sehari-hari.
Aparat pemerintah, TNI, Polri, relawan, dan masyarakat bekerja bersama membersihkan Aceh Tamiang dari lumpur.
Namun pekerjaan paling sulit sesungguhnya bukan membersihkan lumpur.
Melainkan memulihkan mental masyarakat.
Trauma yang Tidak Terlihat
BENCANA tidak hanya merusak bangunan.




