Dari Lumpur dan Arus Deras, Armia Pahmi Menata Kembali Aceh Tamiang

Di tengah situasi itu, Armia harus memainkan dua peran sekaligus.

Sebagai kepala daerah.

Dan sebagai “pelobi” bagi daerahnya sendiri.

Ia harus meyakinkan pemerintah pusat bahwa Aceh Tamiang membutuhkan perhatian serius.

Bahwa daerah ini tidak boleh dibiarkan bangkit sendiri.

Dalam berbagai kesempatan, ia disebut aktif membangun komunikasi hingga ke tingkat kementerian demi memastikan Aceh Tamiang memperoleh prioritas rehabilitasi dan rekonstruksi.

BACA JUGA...  Aceh Tamiang Gelar MTQ ke VII dan FASI Satu

Apa yang Sudah Dibangun?

MEMASUKI fase rehabilitasi dan rekonstruksi, berbagai pembangunan mulai berjalan di Aceh Tamiang.

Hunian sementara dan hunian tetap mulai dibangun untuk warga terdampak berat.

Jalan dan jembatan yang rusak diperbaiki. Drainase diperkuat. Tanggul mulai dibenahi.

Sekolah dan fasilitas kesehatan dipulihkan agar pelayanan publik kembali normal.

Pemerintah juga mulai memperhatikan pemulihan ekonomi masyarakat melalui bantuan modal usaha dan dukungan terhadap sektor perdagangan lokal.

BACA JUGA...  Jeri Panjaitan: Minta Kejati Aceh Segera Tetapkan Tersangka Kasus PSR Aceh Tamiang

Di sisi lain, normalisasi sungai dan pengerukan alur air menjadi perhatian penting untuk mengurangi risiko banjir berulang.

Bencana besar ini membuat Aceh Tamiang menyadari satu hal penting.

Bahwa ancaman ekologis tidak bisa lagi dipandang sebagai persoalan musiman biasa.