Dari Lumpur dan Arus Deras, Armia Pahmi Menata Kembali Aceh Tamiang

Kerusakan daerah resapan, sedimentasi sungai, dan perubahan tata lingkungan menjadi bagian dari ancaman nyata.

Karena itu, rehabilitasi Aceh Tamiang bukan sekadar membangun ulang bangunan yang rusak.

Tetapi membangun sistem yang lebih siap menghadapi masa depan.

Bencana yang Mengubah Cara Pandang

ENAM bulan lebih pascabencana, Aceh Tamiang perlahan bangkit.

BACA JUGA...  Menjejak Harapan; Telaah Renja Aceh Besar 2025

Anak-anak mulai kembali sekolah. Pasar kembali hidup. Aktivitas pemerintahan berjalan normal.

Namun bencana besar itu meninggalkan pelajaran yang mahal.

Bahwa daerah ini membutuhkan sistem mitigasi yang lebih kuat.

Bahwa pembangunan tidak boleh lagi mengabaikan keseimbangan lingkungan.

Dan bahwa dalam situasi paling sulit, kepemimpinan tidak diukur dari pidato, melainkan dari keberanian hadir bersama rakyat.

BACA JUGA...  Tempuh Jalur Legislatif, Bang Zak Perjuangkan Aspirasi Warga

Tentang Seorang Bupati dan Daerah yang Menolak Menyerah

HARI ini, tepat 182 hari sejak banjir besar melumpuhkan Aceh Tamiang.

Air memang sudah surut.

Namun bekas luka itu masih ada.

Ia tinggal di rumah-rumah yang pernah hanyut. Tinggal di wajah para petani yang kehilangan sawah. Tinggal di ingatan anak-anak yang pernah tidur di pengungsian.

BACA JUGA...  Bulan Rajab Momentum Refleksi Diri dan Tingkatkan Kualitas Diri

Dan di tengah semua itu, masyarakat masih mengingat satu pemandangan sederhana;

Seorang bupati menyisir Sungai Tamiang demi menjaga komunikasi tetap hidup.