Dari Lumpur dan Arus Deras, Armia Pahmi Menata Kembali Aceh Tamiang

Mereka bekerja hampir tanpa tidur, menjaga frekuensi tetap aktif di tengah keterbatasan.

Dan di balik seluruh operasi darurat itu, ada seorang bupati yang memilih berada langsung di lapangan, bukan hanya menerima laporan dari meja kerja.

Sarung dan Kaos dari Warga

Momen Kecil yang Menjadi Simbol Kedekatan

BENCANA besar sering melahirkan kisah-kisah kecil yang justru paling membekas.

BACA JUGA...  Aceh Tamiang Gelar MTQ ke VII dan FASI Satu

Hari kedua banjir, Armia Pahmi berada di kawasan Best Coffee, Kampung Tanah Terban. Ia baru saja kembali dari peninjauan lapangan.

Pakaian dinas yang dikenakannya sudah tidak lagi terlihat seperti pakaian seorang kepala daerah.

Baju dan celananya dipenuhi lumpur. Basah. Kotor. Bau sungai melekat di tubuhnya.

Tidak ada waktu pulang ke rumah. Tidak ada kesempatan berganti pakaian.

BACA JUGA...  Menunggu Tangan Pusat Bersuara

Di tengah kondisi itu, seorang warga mendatanginya sambil membawa kain sarung dan baju kaos sederhana.

“Pak, pakai ini saja dulu.”

Kalimat itu sederhana.

Namun bagi Armia, peristiwa itu menjadi salah satu momen paling emosional selama bencana berlangsung.

Ia menerima sarung dan kaos tersebut tanpa jarak protokoler. Tanpa canggung.

Di lokasi itu pula ia tetap menerima laporan dari berbagai kecamatan sambil duduk sederhana bersama warga dan relawan.