Tower telekomunikasi terganggu. Akses jalan darat tertutup air dan lumpur. Beberapa wilayah bahkan benar-benar terisolasi.
Dalam kondisi itulah Armia Pahmi mengambil keputusan yang tidak lazim bagi seorang kepala daerah.
Ia memilih menyisir Sungai Tamiang menggunakan boat menuju Kampung Paya Bedi, tepatnya Dusun Prabu.
Tujuannya bukan untuk pencitraan.
Ia ingin memastikan komunikasi dengan pemerintah provinsi dan pusat tetap hidup melalui ORARI dan RAPI.
Di saat teknologi modern lumpuh, radio komunikasi menjadi satu-satunya harapan.
Arus Sungai Tamiang malam itu sangat berbahaya. Air keruh membawa batang kayu dan material hanyut dari hulu. Namun perjalanan tetap dilakukan.
Bagi Armia, komunikasi adalah nyawa penanganan bencana.
Tanpa komunikasi, bantuan tidak akan datang. Tanpa komunikasi, ribuan warga yang terjebak banjir tidak akan diketahui kondisinya oleh dunia luar.
Di Dusun Prabu, perangkat ORARI dan RAPI menjadi pusat komunikasi darurat.
Dari titik sederhana itulah laporan kondisi Aceh Tamiang mulai diteruskan ke Banda Aceh dan Jakarta.
Permintaan logistik, bantuan evakuasi, obat-obatan, hingga alat berat mulai dikirim melalui frekuensi radio.
Dalam banyak kesaksian relawan dan aparat lapangan, komunitas ORARI dan RAPI disebut menjadi tulang punggung komunikasi darurat saat itu.




