Baik tak Berujung Lurus
SAYA INGAT kata bijak, Socrates; filosopi Yunani itu berkata “Ketika kalah dalam debat, fitnah menjadi alat bagi pecundang,”. Sebaliknya, “Gunakan waktu Anda untuk meningkatkan diri Anda dengan tulisan orang lain, sehingga Anda akan dengan mudah menemukan apa yang telah diusahakan orang lain,” indah tetapi sangat menusuk.
Pujangga Athena itu mengajarkan kita arti persahabatan [bukan kawan] bahwa kebaikan tak selamanya dibalas dengan kebaikan, tetapi oleh fitnah yang sejurus tanpa dasar menguasai pikiran kotor.
Ada ‘torehan miring’ dengan tinta merah [fragmatis] yang belum tentu kebenarannya di laman website media online terbitan Aceh. Tentang kinerja Penjabat (Pj) Bupati Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Tamiang. Dr. Drs. Meurah Budiman, SH, MH. Yang juga menjabat Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Provinsi Aceh.
Goresan itu menciptakan stigma dan preseden terhadap kinerja Meurah sebagai Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Provinsi Aceh. Padahal apa yang dilakukan Meurah Budiman di tiap-tiap Lapas di Aceh menjadi Rule Model untuk diikuti.
Berbanding terbalik dengan goresan [menuding] tertuju pada Meurah. Marahkah Meurah, “tidak” Dia hanya sumringah menanggapi tulisan itu.




