“Masyarakat tidak bisa menunggu terlalu lama. Mereka butuh likuiditas untuk memulai kembali usaha kecilnya. Kalau semua tersangkut di meja administrasi, ekonomi rakyat akan tetap lumpuh.”
[Saiful Alam, SE. Tokoh Masyarakat Aceh Tamiang].
AIR TELAH surut dari halaman rumah warga di sejumlah kampung di Aceh Tamiang. Namun, bekasnya masih tertinggal; [lumpur di dinding, perabot rusak, dan warung kecil yang tak lagi berputar].
Di tengah kondisi ekonomi yang belum pulih, suara kritik mulai menguat. Bukan sekadar soal bantuan yang lambat, tetapi tentang arah kebijakan yang dinilai tak menyentuh kebutuhan paling mendasar [uang tunai untuk menggerakkan kembali denyut ekonomi rakyat].
ADMINISTRASI MENUMPUK, EKONOMI TERSENDAT
PASCA-BANJIR yang merendam ribuan rumah di Kabupaten Aceh Tamiang, pemerintah daerah bersama pemerintah pusat menjanjikan bantuan rehabilitasi rumah dan pemulihan ekonomi.
Namun di lapangan, sejumlah warga mengeluhkan proses verifikasi dan administrasi yang berlarut-larut.
Berkas pendataan, survei ulang, hingga sinkronisasi data antarlembaga menjadi tahapan yang memakan waktu. Sementara itu, sebagian warga terpaksa meminjam uang untuk memperbaiki rumah secara swadaya. Ada pula yang menunda renovasi karena menunggu kepastian bantuan.




