Dari Lumpur dan Arus Deras, Armia Pahmi Menata Kembali Aceh Tamiang

“Saat itu yang kami pikirkan bukan jabatan, bukan protokoler. Yang ada hanya bagaimana rakyat bisa selamat dan bantuan bisa segera masuk.”

[Irjen Pol (P) Drs. Armia Pahmi, MH].

Selama 182 hari pascabencana ekologis dan hidrometeorologi yang melumpuhkan Aceh Tamiang, Bupati Aceh Tamiang, Irjen Pol (P) Drs. Armia Pahmi, MH., menghadapi ujian terbesar dalam perjalanan kepemimpinannya.

Dari menyisir Sungai Tamiang demi menjaga komunikasi darurat, menerima sarung dari warga karena pakaian dinasnya dipenuhi lumpur, hingga bolak-balik Jakarta memperjuangkan rehabilitasi dan rekonstruksi.

Kisah ini menjadi potret tentang kepemimpinan di tengah bencana, daya tahan masyarakat, dan pertarungan panjang membangkitkan Bumi Muda Sedia dari kehancuran.

Ketika Aceh Tamiang Nyaris Lumpuh

BACA JUGA...  SAYA BERSUMPAH PASTI ADA DI SINI!

TIDAK ada yang benar-benar siap menghadapi malam itu.

Langit di Aceh Tamiang sejak sore memang telah berubah muram. Hujan turun tanpa jeda. Sungai-sungai yang membelah wilayah ujung timur Aceh itu perlahan meluap.

Namun tidak banyak yang menduga bahwa air akan datang sebesar itu [membawa lumpur, batang kayu, reruntuhan rumah, bahkan menghancurkan harapan ribuan keluarga dalam satu malam panjang].

BACA JUGA...  MENAGIH KEPASTIAN DI TANAH PENGUNGSIAN

Di banyak kampung, warga terbangun bukan oleh suara azan Subuh, melainkan teriakan panik tetangga yang rumahnya mulai dimasuki air.