KAYU HANYUT DAN NEGARA YANG TERLAMBAT

Senin, 12 Januari 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

“Ini sudah hampir 47 hari pascabanjir bandang. Negara tidak boleh setengah-setengah. Kayu-kayu itu harus diidentifikasi: asalnya dari kawasan hutan atau bukan, jenisnya apa, dan berapa kubikasinya. Kalau tidak, ini membuka ruang kejahatan kehutanan.”

[Sayed Zainal M, SH. Direktur Eksekutif LembAHtari].

GELONDONGAN kayu itu masih ada. Sebagian tersangkut di tikungan Sungai Tamiang, sebagian lain terdampar di kebun sawit warga, dan tak sedikit yang menghimpit sisa rumah yang roboh. Ukurannya tak lazim untuk sekadar “kayu hanyut”. Diameter besar, panjang belasan meter, dengan bekas potongan mesin yang masih jelas.

BACA JUGA...  Ketua dan Wakil Ketua DPRK Aceh Tamiang Sahkan APBK 2026

Lebih dari empat puluh tujuh hari setelah banjir bandang 26 November 2025, kayu-kayu itu menjadi saksi bisu. Air memang telah surut, tapi negara justru tertinggal di belakang arus.

KAYU YANG DATANG DARI HULU

BANJIR bandang yang menerjang Aceh Tamiang dan sebagian Aceh Timur akhir November lalu datang tanpa ampun.

Air bah dari hulu DAS WS Tamiang–Langsa membawa lumpur, batu, dan ribuan gelondongan kayu. Di Kecamatan Kota Kualasimpang, Karang Baru, Sekerak, hingga Bandar Pusaka, warga menyebut suara benturan kayu lebih mengerikan dari gemuruh air.

BACA JUGA...  'Abi’ Ilegal dan ‘Sengkuni’ Mafia Proyek

“Rumah kami hancur bukan karena air saja, tapi karena kayu,” kata seorang warga Karang Baru, mengingat malam ketika banjir datang.

Gelondongan kayu itu bukan kayu kecil. Banyak di antaranya berdiameter lebih dari satu meter. Secara logika ekologis, kayu dengan ukuran seperti itu hanya mungkin berasal dari kawasan hutan alam, bukan dari kebun rakyat biasa.

BACA JUGA...  Aceh Tamiang Jadi Ruang Belajar Kepemimpinan Nasional Pascabencana

Berita Terkait

Somasi Bang Agam, Minta DPRK Buka Persoalan Kepala Sekolah
Tiga Hari Yang Menguji Diri
Hardikda Ke-67, Armia Dorong Penguatan Mutu Pendidikan
Dari Bantuan Darurat ke Ekonomi Mandiri
Air yang Datang, Sawah yang Kembali Berharap
Lilawangsa Run 2026: Berlari Merawat Asa, Memulihkan Luka Pascabencana
Jembatan untuk Pulang, Jalan untuk Bangkit
Ketika Jalan Kembali Terang

Berita Terkait

Jumat, 4 September 2026 - 09:45 WIB

Somasi Bang Agam, Minta DPRK Buka Persoalan Kepala Sekolah

Kamis, 3 September 2026 - 13:44 WIB

Tiga Hari Yang Menguji Diri

Kamis, 3 September 2026 - 10:34 WIB

Hardikda Ke-67, Armia Dorong Penguatan Mutu Pendidikan

Jumat, 21 Agustus 2026 - 10:29 WIB

Dari Bantuan Darurat ke Ekonomi Mandiri

Senin, 10 Agustus 2026 - 18:43 WIB

Air yang Datang, Sawah yang Kembali Berharap

Berita Terbaru

Anggota DPR-RI asal Aceh Muslim Ayub berfoto bersama jajaran Lapas Kelas IIA Banda Aceh, saat kunker ke rumah tahanan itu, Kamis, (3/9/2026).(Foto/mediaaceh.co.id/istimewa).

PEMERINTAHAN

Muslim Ayub Lihat Kondisi Lapas Kelas IIA Banda Aceh

Jumat, 4 Sep 2026 - 17:46 WIB