Dari Lumpur dan Arus Deras, Armia Pahmi Menata Kembali Aceh Tamiang

Banyak masyarakat yang menyaksikan langsung peristiwa tersebut kemudian mengingatnya bukan sebagai adegan seremonial, melainkan sebagai simbol kedekatan antara pemimpin dan rakyatnya.

Di tengah bencana, rakyat memberi pakaian kepada bupatinya.

Dan bupatinya tetap memilih tinggal bersama rakyat.

Dari Perwira Tinggi Polri ke Kepala Daerah di Tengah Krisis

SEBELUM memimpin Aceh Tamiang, Armia Pahmi dikenal sebagai sosok aparat dengan pengalaman panjang di institusi kepolisian.

BACA JUGA...  Aceh Tamiang di Antara Transisi dan Isu Strategis Pembangunan

Ia adalah purnawirawan Perwira Tinggi Polri berpangkat Inspektur Jenderal Polisi.

Karier panjangnya membentuk karakter disiplin, cepat mengambil keputusan, dan terbiasa menghadapi situasi penuh tekanan.

Dunia kepolisian mengajarkannya tentang koordinasi lapangan, manajemen konflik, dan kepemimpinan dalam kondisi darurat.

Namun bencana besar akhir 2025 menghadirkan tantangan yang berbeda.

Ia tidak sedang menghadapi kriminalitas ataupun konflik keamanan.

BACA JUGA...  Di Garis Depan Banjir Tamiang, ‘Ujian Kepemimpinan Armia Pahmi'

Ia menghadapi penderitaan masyarakatnya sendiri.

Ia menyaksikan rumah-rumah hanyut, sawah tertutup lumpur, jembatan putus, sekolah rusak, dan ribuan warga kehilangan tempat tinggal.

Dan sebagai kepala daerah, seluruh harapan masyarakat tertuju kepadanya.

Pemerintah yang Tidak Tidur