Anak-anak menangis. Lansia dipapah dalam gelap. Sebagian warga hanya sempat menyelamatkan pakaian di badan.
Dalam hitungan jam, jalan utama terputus. Jaringan telekomunikasi lumpuh. Aliran listrik padam di banyak titik.
Banjir ekologis dan hidrometeorologi itu kemudian menjadi salah satu bencana terbesar yang pernah dihadapi Aceh Tamiang dalam beberapa puluh tahun terakhir.
Sebanyak 12 kecamatan dan 216 kampung terdampak.
Aceh Tamiang seperti berhenti bernapas.
Di tengah kekacauan itu, seorang lelaki berpeci hitam berdiri di tepi sungai dengan pakaian penuh lumpur.
Ia bukan relawan biasa.
Ia adalah Bupati Aceh Tamiang, Irjen Pol (P) Drs. Armia Pahmi, MH.
Malam itu, ia tidak sedang memimpin rapat resmi di ruang pendingin udara. Ia berada di tengah banjir, di antara suara mesin boat, teriakan warga, dan deras arus Sungai Tamiang yang terus membawa puing-puing kehidupan masyarakat.
Sudah 182 hari berlalu sejak 25 November 2025.
Namun bagi banyak warga, ingatan tentang malam ketika Aceh Tamiang nyaris lumpuh itu masih terasa sangat dekat.
Menembus Sungai Tamiang demi Menjaga Harapan Tetap Hidup
PADA hari-hari pertama bencana, kondisi Aceh Tamiang berada di titik paling kritis.
Pemerintah daerah nyaris kehilangan jalur komunikasi dengan Banda Aceh maupun Jakarta.




