“Pendidikan sejati adalah keberanian untuk menyeberangi lumpur demi cahaya. Bukan karena kewajiban, tapi karena cinta pada masa depan anak-anak bangsa.”
[Syawaluddin Ksp. Redaktur Pelaksana mediaaceh.co.id].
DI ACEH TAMIANG, pendidikan berjalan di atas dua dunia. Di hilir, sekolah-sekolah berdiri megah, sinyal internet menjangkau ruang kelas, dan guru bisa mengakses pelatihan daring kapan saja.
Sementara di hulu [wilayah pegunungan dan pedalaman yang jauh dari pusat kabupaten] pendidikan sering kali harus bertarung dengan lumpur, hujan, dan jarak.
Setiap musim penghujan tiba, jalan menuju sekolah berubah menjadi kubangan. Sepeda motor tak bisa lewat.
Anak-anak berjalan kaki berjam-jam, sebagian bahkan menyeberangi sungai dengan perahu sederhana.
Guru yang datang ke sana bukan hanya mengajar, tapi juga berjuang. Mereka adalah wajah paling nyata dari dedikasi; mengajar dengan keterbatasan, namun tak kehilangan makna.
Namun di balik semangat itu, ketimpangan mutu pendidikan antara wilayah hulu dan hilir masih menganga lebar.
Data nasional kerap menutupinya, tapi di lapangan, ketimpangan itu terasa, sekolah tanpa guru tetap, fasilitas belajar yang seadanya, dan akses literasi digital yang nyaris tak ada.
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya














