“Pendidikan tidak bisa dibangun dari gedung ke gedung, tapi dari hati ke hati [dari guru yang berdaya, murid yang merdeka, dan masyarakat yang percaya].”
[Drs. Sepriyanto, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Tamiang].
DI SATU SEKOLAH DASAR di pinggiran Kecamatan Sekerak, pagi itu; bel tanda masuk baru saja dibunyikan. Di ruang kelas, anak-anak bergegas menempati bangku mereka yang sebagian masih berumur tua. Papan tulisnya sudah retak di sisi kiri, dan kapur putih yang tersisa tinggal setengah batang.
Namun wajah sang guru tetap memancarkan semangat. “Kita mulai belajar dengan bismillah,” ujarnya pelan, menatap dua puluh pasang mata kecil yang menyimak dengan serius.
Pemandangan semacam itu masih menjadi realitas di banyak sekolah di Aceh Tamiang. Di kabupaten yang kaya sumber daya alam namun belum sepenuhnya makmur dalam sumber daya manusia, pendidikan kerap menjadi paradoks.
Di satu sisi, bangunan sekolah terus bertambah dengan dukungan dana Otonomi Khusus (Otsus) Aceh; di sisi lain, mutu pembelajaran, digitalisasi, dan kesejahteraan guru belum berjalan serentak.
Mimpi Besar dari Timur Aceh
Aceh Tamiang, pintu gerbang timur Provinsi Aceh, memikul tanggung jawab besar; menjadi wajah depan peradaban Aceh yang berdaya saing di tingkat nasional.




