Digitalisasi dari Pinggiran
Transformasi pendidikan digital menjadi prioritas besar lainnya. Di tengah kesenjangan infrastruktur, Dinas Pendidikan menggandeng komunitas IT lokal dan relawan muda untuk mendampingi guru-guru di sekolah terpencil.
Kini, pelatihan digital teaching skills rutin digelar [bukan hanya di aula kabupaten, tapi juga langsung ke sekolah-sekolah].
Guru muda mulai terbiasa menggunakan Learning Management System (LMS) sederhana, sementara guru senior perlahan belajar mengadaptasi teknologi dalam pembelajaran.
“Digitalisasi ini bukan soal perangkat, tapi soal cara berpikir baru,” kata Sepriyanto. “Kalau guru bisa menginspirasi lewat layar kecil, maka tidak ada alasan anak di pedalaman tertinggal.”
Menautkan Dunia Sekolah dan Dunia Kerja
Aceh Tamiang dengan potensi agrarisnya diarahkan menjadi pusat pengembangan pendidikan vokasi.
Drs. Sepriyanto mendorong setiap SMK memiliki mitra industri lokal. Pola link and match yang selama ini sebatas seremonial kini ditargetkan menjadi bagian integral dari kurikulum.
SMK pertanian bekerja sama dengan koperasi sawit, SMK perikanan menjalin kemitraan dengan pelaku usaha tambak, dan SMK teknik membuka teaching factory untuk alat pertanian sederhana.
“Kalau pendidikan tidak beririsan dengan dunia kerja, kita hanya mencetak ijazah, bukan kemampuan,” tegasnya.
Guru sebagai Titik Poros Perubahan




