Namun, data Dinas Pendidikan dan Kebudayaan menunjukkan, angka partisipasi sekolah menurun di jenjang menengah.
Di daerah-daerah pedalaman seperti Tenggulun, Sekerak dan atau kecamatan lain di wilayah itu. Anak-anak kerap berhenti sekolah karena membantu orang tua di kebun sawit atau ikut merantau.
“Masalahnya bukan hanya soal biaya atau fasilitas,” ujar Drs. Sepriyanto, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Tamiang, saat ditemui di ruang kerjanya di Karang Baru. “Tapi juga mindset. Kita sedang berjuang membangun kesadaran bahwa sekolah bukan sekadar tempat belajar, tapi investasi masa depan.”
Ia berbicara dengan nada tegas namun berimbang, menandai arah baru kebijakan pendidikan di kabupaten itu, pendidikan yang menumbuhkan karakter, kompetensi, dan kemerdekaan berpikir.
Dari Gedung ke Jiwa
Dalam beberapa tahun terakhir, Dinas Pendidikan di bawah kepemimpinan Drs. Sepriyanto mencoba mengubah fokus pembangunan dari fisik ke kualitas pembelajaran.
Ia menyebut bahwa transformasi pendidikan tak bisa diukur dari banyaknya gedung baru, tetapi dari sejauh mana sekolah menjadi ruang yang menumbuhkan manusia seutuhnya.
“Sekolah kita harus kembali pada ruhnya; membentuk anak berkarakter, berpikir kritis, dan mencintai tanah kelahirannya,” ujarnya.
Konsep ini diterjemahkan dalam beberapa kebijakan konkret, Integrasi kurikulum karakter Islami dan budaya lokal Tamiang ke dalam kegiatan tematik.




