Dalam setiap kebijakan yang dirancang, posisi guru selalu menjadi prioritas utama.
Dinas Pendidikan di bawah Sepriyanto membentuk program Guru Inspiratif Daerah [ajang penghargaan bagi guru yang melahirkan inovasi pembelajaran di daerah pinggiran].
Selain itu, pola coaching clinic antar-guru dihidupkan. Guru yang lebih maju di bidang teknologi mendampingi rekan-rekannya di sekolah lain. Semangatnya sederhana [saling menguatkan, bukan saling menilai].
“Tidak semua guru harus hebat dalam teknologi. Yang penting, mau belajar bersama,” kata Sepriyanto dalam satu sesi pelatihan.
Merdeka dalam Manajemen Sekolah
Reformasi juga dilakukan pada level manajerial. Melalui penerapan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) yang lebih terbuka, kepala sekolah diberi ruang otonomi untuk mengelola dana dan inovasi pembelajaran sesuai kebutuhan lapangan.
Transparansi dijamin dengan sistem audit berbasis komunitas dan partisipasi publik.
Sekolah diarahkan menjadi pusat kehidupan komunitas; bukan sekadar unit birokrasi. Orang tua, tokoh adat, dan masyarakat desa mulai dilibatkan dalam kegiatan literasi dan budaya sekolah.
Transparansi dan Partisipasi Publik
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan kini sedang menyiapkan dashboard mutu sekolah yang dapat diakses publik.




