Dan di atas semua itu, diperlukan keberpihakan politik pendidikan. Pemerintah daerah perlu melihat pendidikan bukan sebagai beban anggaran, melainkan sebagai investasi jangka panjang bagi peradaban Aceh Tamiang.
Anak-anak di hulu adalah masa depan yang sama berharganya dengan anak-anak di kota. Mereka bukan beban pembangunan, tetapi potensi yang menunggu kesempatan.
Aceh Tamiang tak akan pernah benar-benar maju jika hanya satu sisi wilayahnya yang tercerahkan. Hulu yang kuat adalah fondasi bagi hilir yang makmur.
Saat anak-anak di hulu dapat belajar tanpa harus takut hujan, saat guru tak lagi harus menembus jalan berlumpur tanpa kepastian, saat itulah kita bisa mengatakan bahwa pendidikan benar-benar hadir sebagai hak, bukan sekadar janji.
“Pendidikan sejati adalah keberanian untuk menyeberangi lumpur demi cahaya. Bukan karena kewajiban, tapi karena cinta pada masa depan anak-anak bangsa.” [Syawaluddin Ksp. Redaktur Pelaksana mediaaceh.co.id]. [].















