“Banjir yang meluluhlantakkan Aceh Tamiang adalah peringatan keras dari alam. Pengerukan muara bukan solusi tunggal, tapi bagian penting dari pemulihan ekologis. Semua harus dilakukan sah, terukur, dan bertanggung jawab.”
[Irjen Pol (P) Drs. Armia Pahmi, MH. Bupati Aceh Tamiang].
- BANJIR Ekologis Aceh Tamiang, dari Hulu yang Gundul hingga Muara yang Dangkal
AIR datang dari hulu dengan membawa kemarahan alam. Bukan hanya air, tapi lumpur, kayu, batang pohon, dan pasir.
Dalam hitungan jam, Aceh Tamiang luluh lantak. Kampung-kampung terendam. Sawah hilang. Rumah hanyut. Jalan nasional lumpuh. Banjir kali ini bukan banjir biasa. Ia datang masif, serentak, dan merusak; sebuah bencana ekologis.
Ketika air akhirnya surut, pertanyaan yang tersisa bukan lagi kapan hujan turun, melainkan mengapa kerusakan begitu parah. Jawabannya mengarah ke dua titik krusial; hulu yang rusak dan muara yang tersumbat.
BANJIR YANG TIDAK LAHIR DARI HUJAN
DATA curah hujan memang tinggi. Tapi hujan serupa pernah turun bertahun-tahun sebelumnya tanpa kehancuran sebesar ini. Yang berubah adalah daya dukung lingkungan.
Di bagian hulu, kawasan hutan penyangga sungai terus terdegradasi. Pembukaan lahan, penebangan, dan perubahan tutupan vegetasi mempercepat limpasan air. Sungai kehilangan fungsi alaminya sebagai pengendali debit.




