MUARA YANG TERSUMBAT, HUTAN YANG HILANG

Namun Armia Pahmi menegaskan, di Aceh Tamiang, pasir bukan komoditas utama.

“Pasir ini hasil dari kerusakan ekologis. Prioritas kami adalah pemulihan, bukan keuntungan,” katanya.

Sikap ini penting, mengingat banyak konflik pengerukan di daerah lain justru bermula dari orientasi ekonomi, bukan keselamatan lingkungan.

INVESTIGASI SEBAB-AKIBAT: TANPA HULU, MUARA TAK AKAN SELAMAT

BACA JUGA...  Bunda PAUD Aceh Tamiang Ikut Rakor Penguatan Pokja PAUD se Aceh

PARA ahli lingkungan sepakat, pengerukan muara tanpa pemulihan hulu hanya akan menjadi solusi sementara. Selama hutan terus rusak, sedimentasi akan kembali.

Armia Pahmi menyadari keterbatasan kewenangan daerah dalam mengendalikan kawasan hutan, namun ia menekankan satu hal; banjir Aceh Tamiang adalah bukti nyata bahwa kebijakan ekologis tidak boleh parsial.

Muara, sungai, dan hutan adalah satu sistem. Merusak satu bagian berarti menghancurkan semuanya.

BACA JUGA...  HUNTAP UNTUK ASA; SAAT LAHAN, BIROKRASI, DAN KEMANUSIAAN BERTEMU

BENCANA DATANG TIBA TIBA

BANJIR yang meluluhlantakkan Aceh Tamiang telah membuka tabir yang selama ini tertutup lumpur; Bahwa bencana bukan datang tiba-tiba, melainkan dibangun perlahan oleh kelalaian ekologis.

Pengerukan muara kini menjadi kebutuhan mendesak. Tapi ia bukan jawaban tunggal. Ia hanyalah tameng terakhir setelah hulu terlanjur rusak.

Di hadapan alam yang murka, Pemerintah Aceh Tamiang memilih berdiri di jalur yang sempit namun benar; antara desakan publik, kerumitan regulasi, dan tanggung jawab ekologis.