yang sedang ditempa bukan hanya kemampuan teknis jurnalistik.
Mental kami juga sedang diuji.
Menjadi wartawan bukan hanya persoalan bisa menulis.
Seorang wartawan harus mampu bekerja di bawah tekanan tanpa kehilangan akal sehat.
Harus mampu menerima koreksi tanpa merasa direndahkan.
Harus mampu mengakui kesalahan.
Dan yang paling penting, harus tetap menjaga etika ketika berada dalam situasi sulit.
Penguji yang Awalnya Terasa Galak
DUA hari bersama Refa mungkin membuat kami mengenangnya sebagai penguji yang galak.
Suaranya tegas.
Instruksinya jelas.
Koreksinya tidak banyak kompromi.
Tetapi setelah seluruh proses dilewati, kesan itu perlahan berubah.
Di balik ketegasan tersebut ada pesan yang jauh lebih besar;
wartawan tidak boleh bekerja setengah hati.
Refa tidak sedang mencari kesalahan untuk menjatuhkan kami.
Ia justru menunjukkan bahwa dalam pekerjaan jurnalistik, kesalahan sekecil apa pun harus mendapat perhatian.
Di ruang ujian, sebuah kekeliruan mungkin hanya berakhir dengan koreksi.
Tetapi di lapangan, satu data yang salah dapat merugikan seseorang.
Satu informasi yang tidak diverifikasi dapat menyesatkan publik.
Satu keputusan yang mengabaikan etika dapat merusak kepercayaan masyarakat terhadap pers.
Penulis : Syawaluddin
Editor : Syawaluddin Ksp
Sumber Berita: Catatan selama UKW















