Yang diuji adalah cara berpikir di balik berita itu.
Bagaimana sebuah informasi diperoleh.
Bagaimana fakta dipilah.
Bagaimana sebuah persoalan ditempatkan.
Bagaimana narasumber diperlakukan.
Bagaimana keberimbangan dijaga.
Dan bagaimana seorang wartawan mengambil keputusan ketika berhadapan dengan fakta yang tidak selalu sederhana.
Jam terus bergerak.
Sementara pekerjaan belum selesai.
Di titik itu, kami mulai memahami bahwa UKW bukan sekadar proses untuk memperoleh sertifikat kompetensi.
Ia seperti cermin.
Melalui ujian itu, kami dipaksa melihat kembali perjalanan panjang sebagai wartawan.
Apa yang selama ini dianggap benar, diperiksa kembali.
Apa yang selama ini menjadi kebiasaan, dipertanyakan.
Dan apa yang selama ini mungkin luput dari perhatian, kembali ditunjukkan.
Dua Hari yang Terasa Panjang
HARI pertama terasa panjang.
Namun ternyata itu baru awal.
Hari kedua datang dengan tubuh yang mulai lelah dan pikiran yang semakin terkuras.
Tetapi ujian tidak mengenal kata lelah.
Kami terus bekerja.
Terus menyelesaikan tugas.
Terus menerima koreksi.
Kami seperti “dihajar” untuk kembali melihat kelemahan sendiri.
Kesalahan dikoreksi.
Kekurangan ditunjukkan.
Setiap pekerjaan harus dapat dipertanggungjawabkan.
Di sana saya mulai memahami satu hal:
Penulis : Syawaluddin
Editor : Syawaluddin Ksp
Sumber Berita: Catatan selama UKW















