Refa langsung menariknya.
Daftar hadir itu diremas, kemudian dilemparkan ke hadapan kami.
Lalu keluar sebuah kalimat yang membuat suasana ruangan mendadak berbeda;
“Kalian pemberontak, ya?”
Kami sontak terdiam.
Tidak ada yang berani menanggapi.
Tidak ada yang tahu harus menjawab apa.
Ketegangan yang sejak awal sudah terasa langsung berubah menjadi keheningan yang lebih pekat.
Dalam hati mungkin muncul pertanyaan yang sama di antara kami;
Seberat inikah UKW jenjang Utama?
Jawabannya segera kami temukan.
Ketika Jam Menjadi Lawan
MATA uji pertama dimulai.
Soal diberikan.
Waktu ditentukan.
Tidak ada kompromi.
Jam menjadi lawan yang nyata.
Jarumnya terus bergerak sementara pekerjaan harus diselesaikan.
Di situlah kami mulai menyadari bahwa pengalaman bertahun-tahun sebagai wartawan ternyata tidak otomatis membuat seseorang bisa duduk santai di ruang ujian.
Rutinitas jurnalistik kami dibongkar kembali.
Cara menggali informasi diuji.
Kemampuan memahami persoalan diuji.
Cara menulis berita diuji.
Ketelitian diuji.
Etika diuji.
Tanggung jawab diuji.
Bahkan kemampuan mengambil keputusan sebagai wartawan ikut dipertaruhkan.
Saya mulai merasa bahwa UKW bukan sekadar menguji apakah seorang wartawan mampu menulis berita.
Penulis : Syawaluddin
Editor : Syawaluddin Ksp
Sumber Berita: Catatan selama UKW















