TNGL memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi, dengan lebih dari 800 spesies fauna dan 10.000 jenis tumbuhan. Kawasan ini merupakan rumah bagi satwa langka seperti orangutan Sumatera, harimau Sumatera, gajah Sumatera, dan badak Sumatera.
Beber Armia lagi bahwa; TNGL merupakan salah satu contoh ekosistem hutan hujan tropis yang masih terjaga dan berfungsi sebagai penyangga kehidupan bagi masyarakat sekitar.
Terutama itu, TNGL menyediakan suplai air bagi lebih dari 4 juta masyarakat yang tinggal di Provinsi Aceh dan Sumatera Utara.
Selanjutnya, TNGL telah menjadi pusat penelitian dan pendidikan lingkungan, serta tujuan ekowisata yang mendukung perekonomian setempat.
TNGL juga telah diakui sebagai Situs Warisan Dunia oleh UNESCO pada tahun 2004, sehingga memiliki nilai penting bagi konservasi lingkungan global.
Namun, TNGL juga menghadapi beberapa tantangan, seperti; Deforestasi dan Kerusakan Habitat. Perambahan hutan, illegal logging, dan pembukaan lahan untuk perkebunan sawit dan pertanian merupakan ancaman serius bagi kelestarian TNGL serta perburuan satwa liar.
“Untuk itu, pelestarian TNGL sangat penting untuk menjaga keanekaragaman hayati, ekosistem hutan hujan tropis, dan sumber air, serta mendukung perekonomian masyarakat sekitar,” pungkas Armia. [].

![Restorasi Kebun Kelapa Sawit Ilegal di Kawasan Konservasi TNGL Sikundur Blok Tenggulun. [Foto Dok. | mediaaceh.co.id | Awelatam].](https://mediaaceh.co.id/wp-content/uploads/2025/09/Compress_20250918_133245_5507.jpg)












