“Hutan bukan sekadar pohon yang tumbuh di bumi, tapi nadi kehidupan bagi manusia, satwa, dan alam. Saat satu batang pohon tumbang, keseimbangan hidup ikut terguncang. Kita tidak hanya merusak tanah, tapi juga masa depan anak cucu kita.
Menjaga hutan berarti menjaga napas kita sendiri, menjaga air, udara, dan harapan yang masih tersisa. Jangan biarkan keserakahan membuat bumi menangis, karena suara hutan adalah suara nurani kita. Bersama, kita bisa menanam kembali harapan yang hilang dan menyalakan kembali kehidupan di setiap daun, sungai, dan satwa yang kita cintai.”
[H. Ilham Pangestu]
PAGI ITU, di aula sederhana WD Kopi, Desa Tanah Terban, semerbak aroma kopi rakyat berpadu dengan hangatnya percakapan para tokoh desa, aktivis lingkungan, dan pejabat publik.
Suasana yang awalnya teduh berubah menjadi ruang dialog penuh makna ketika Anggota Komisi IV DPR RI, H. Ilham Pangestu, membuka kegiatan Bimbingan Teknis Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) tentang Perlindungan Kawasan Konservasi dan Tumbuhan Satwa Liar.
Di hadapan para peserta [Datok Penghulu, tokoh masyarakat, hingga pegiat lingkungan] Ilham tidak sekadar berbicara soal aturan dan kebijakan. Ia menuturkan kegelisahan yang lahir dari kepedulian.
“Kawasan hutan Aceh kini terluka… baik di hutan lindung maupun di hutan mangrove yang dulu menjadi benteng pesisir. Kini, luka itu makin lebar karena ulah manusia,” ujarnya lirih namun tegas.
Luka di Tubuh Hutan




