OPINI  

Minat Baca Huruf Arab – Jawoe Bangkit Kembali di Aceh 

Ilustrasi

Jika selama ini; yang sudah tiga tahun berjalan, pada saat mendaftar peserta diberikan pilihan salah satu naskah yang akan dibaca. Untuk kedepan tantangan akan lebih besar.

Direncanakan peserta akan diberikan beberapa naskah, dan ketika tampil di pentas, maka panitia yang akan menentukan naskah mana yang harus dibacakan. Dengan demikian akan memunculkan sosok-sosok yang memang sangat paham dengan aksara Arab-Melayu/Jawi atau Jawoe.

BACA JUGA...  Status Aceh Tamiang Zona Oranye

Beragam tanggapan para peserta terkait keikutsertaan mereka dalam lomba ini. M. Husen (55) pembaca naskah Teungku di Cucum 1 (satu) menjelaskan bahwa; ia ikut lomba ini karena merasa prihatin dengan bahasa Aceh saat ini.

Generasi sekarang mulai meninggal bahasa sendiri, yaitu bahasa Aceh dengan cara enggan menggunakan bahasa Aceh dalam kehidupan sehari-hari. Jika kita bertanya dengan bahasa Aceh, maka dia tetap menjawab dengan bahasa Indonesia, walaupun dia sangat mengerti bahasa Aceh.

BACA JUGA...  Celoteh KD: Rakyat Susah, Gaji DPR Tetap Melimpah

Saat ini bahasa Aceh banyak dicampur dengan bahasa nasional, seperti saat menyebutkan “camca”, anak-anak tidak lagi menyebut sesuai aslinya, tapi lebih mengenal kata sendok sebagai pengganti camca.

Misalnya, dalam kehidupan sehari-hari untuk meminta camca maka ia menyebutkan “ tolong Mak cok sendok siat!”.