[Opini: Dr. Usman Lamreung, MSI]
- Kericuhan pada peringatan 21 tahun perdamaian Aceh membuka kembali persoalan implementasi MoU Helsinki, UUPA, simbol identitas, dan potensi mobilisasi politik. Siapa yang mengubah forum doa menjadi aksi massa masih membutuhkan pembuktian.
BANDA ACEH seharusnya menjadi pusat peringatan berakhirnya konflik bersenjata Aceh. Pada 15 Agustus 2026, tepat 21 tahun setelah penandatanganan MoU Helsinki, massa berkumpul di Masjid Raya Baiturrahman untuk mengikuti zikir dan doa bersama.
Namun, suasana berubah. Simbol yang memiliki kaitan kuat dengan sejarah konflik kembali muncul. Bendera Bulan Bintang dikibarkan setelah Merah Putih diturunkan. Ketegangan meningkat. Massa dan aparat kemudian terlibat bentrokan. Polisi menggunakan semprotan air dan gas air mata untuk membubarkan massa.
Peristiwa itu tidak berhenti sebagai persoalan keamanan. Ia kembali membuka pertanyaan tentang sejauh mana perdamaian Aceh telah menyelesaikan persoalan politik yang menjadi salah satu akar konflik.
Dari Doa Menjadi Mobilisasi
PERUBAHAN suasana dalam sebuah kerumunan tidak terjadi tanpa proses. Dalam kajian gerakan sosial, mobilisasi massa biasanya dipengaruhi oleh jaringan, kepemimpinan, simbol, narasi, dan momentum.
Penulis : Dr. Usman Lamreung, MSI
Editor : Syawaluddin Ksp
Sumber Berita: Opini Usman Lamreung















