OPINI  

Minat Baca Huruf Arab – Jawoe Bangkit Kembali di Aceh 

Ilustrasi

Diharapkan dengan perlombaan ini, masyarakat tidak meninggalkan identitas diri dan tidak mencampur adukkan bahasa Aceh sebagai identitas diri dengan bahasa nasional dan lainnya. Acara ini diharapkan dapat diikuti oleh setiap wilayah di Aceh untuk meningkatkan khazanah budaya Aceh. Bahasa Aceh merupakan salah satu bahasa terkaya di dunia dan semoga acara ini terus dapat diselenggarakan.

BACA JUGA...  Dubes Turkey: Aceh Punya Tempat Khusus Dalam Sejarah Dan Dihati Kami

Peserta lain, Muhammad Nur dari Tibang yang membacakan naskah Teungku Di Cucum 2(dua) menuturkan bahwa, ketika kecil sering bergaul dengan orang tua yang gemar membaca hikayat, dan saat itu senang belajar membaca hikayat karena isinya sangat bagus, mulai dari nasehat dan petuah ulama. Harapannya, semoga setiap tahun dapat dilaksanakan kegiatan lomba ini.

BACA JUGA...  Wartawan Bodrex dan Tingkah Lakunya

Berdasarkan hasil pantauan terhadap lomba membaca naskah lama Aceh yang sudah berlangsung tiga kali dalam masa tiga tahun, ternyata para peserta lomba lebih banyak memilih membaca naskah yang berunsur agama, dibandingkan dengan naskah cerita.

Pada lomba tahun 2013, mayoritas peserta membaca naskah Hikayat Akhbarul Karim, yang mengandung ajaran Islam tentang kehidupan sehari-hari. Pada tahun 2014 dan 2015, kebanyakan peserta memilih membaca naskah Nazam Tgk. Di Cucum, yang berisi “ilmu batin” membersihkan hati. Dalam acara lomba tahun ini, dari jumlah 50 peserta, hanya satu orang saja yang melantunkan Hikayat Abu Nawah.