SHABELA ABUBAKAR
Pilkada kali ini yang kedua baginya, jadi dia dikenal sebagai incumbent. Dia memang tidak berkeinginan menguasai “mimbar” agama, manalagi dianggap terlalu moderat, tetapi program penulisan Al-Qur’an dalam Bahasa Gayo malah selesai di masa kepemimpinannya.
Hebatnya, terobosan ini bahkan mencapai tujuan yang lainnya, yaitu melindungi Bahasa Gayo dari ancaman kepunahan karena terpaan globalisasi ataupun karena pemaksaan integrasi yang berlebihan.
Pandangannya terhadap kekuasaan dan cara merebutnya tidak berubah, dia membelah pengertian penguasa dan ulama.
Hal ini yang membuat dia tidak memilih jalan menguasai mimbar agama dan corong masjid, ataupun memakai jas dan sarung apalagi harus memelihara janggut hanya karena bulunya yang lebat untuk merebut dan memaksakan simpati pemilih.
Suatu ketika, beberapa pihak dengan tajam mempertanyakan kasus hukum yang bisa menjeratnya. Dia hanya menjawab, tidaklah mungkin tangannya tidak kotor, dia bukan orang suci.
Tetapi siapapun yang mempertanyakannya, dia mempersilahkan untuk mem-”profilling” atau menggambar raut mukanya sejelas mungkin, apakah dia seber masalah itu selama berkuasa.
Mengenai apakah dia sosok yang rakus lagi tamak, orang-orang melihat dia hanya dianggap Bupati termiskin dari 4 (empat) mantan bupati yang sedang berebut pengaruh di dataran tinggi.
Halaman : 1 2 3 4 5 Selanjutnya











