BANDA ACEH (MA) — Hentakan kaki terdengar beriringan. Tepukan tangan dan dada mengikuti ritme. Delapan penari bergerak dalam satu formasi, sementara syair dilantunkan dengan tenaga yang mengisi ruang pertunjukan.
Begitulah Seudati hadir.
Salah satu seni pertunjukan khas Aceh ini tidak hanya mengandalkan gerak tubuh. Di dalamnya berpadu ritme, syair, ekspresi, kekompakan dan disiplin para penari yang membentuk sebuah pertunjukan dengan karakter kuat.
Seudati berkembang terutama di wilayah pesisir Aceh dan telah menjadi bagian dari perjalanan seni pertunjukan masyarakat setempat.
Keunikannya terletak pada cara ritme dibangun. Berbeda dengan banyak tarian tradisional yang menggunakan alat musik sebagai pengiring utama, Seudati justru mengandalkan tubuh para penarinya.
Hentakan kaki, tepukan tangan dan pukulan pada dada menjadi bagian dari musik pertunjukan.
Gerakan yang serempak menciptakan bunyi sekaligus membangun suasana yang dinamis.
Karakter tersebut membuat Seudati kerap diasosiasikan dengan semangat perjuangan dan keberanian. Namun, di balik energi geraknya, terdapat struktur pertunjukan dan nilai kebersamaan yang membuat seni ini tetap menarik hingga kini.
Delapan Penari dalam Satu Kesatuan
Dalam bentuk pertunjukan yang dikenal luas, Seudati dimainkan oleh delapan penari laki-laki sebagai penari utama.
Halaman : 1 2 3 4 5 Selanjutnya















