Menjaga Gegedem Tetap Bertalu, Merawat Ingatan Budaya Tanah Gayo

Kamis, 27 Agustus 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

TAKENGON (MA)  — Bunyi pukulan Gegedem pernah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Gayo. Alat musik tradisional ini hadir dalam berbagai kegiatan adat dan kesenian, mengiringi suasana perkawinan, penyambutan tamu hingga pertunjukan masyarakat.

Namun, suara itu kini semakin jarang terdengar.

Di dataran tinggi Gayo, Kabupaten Aceh Tengah, Gegedem menghadapi tantangan untuk tetap bertahan. Penggunaannya dalam berbagai pertunjukan mulai berkurang, sementara pengrajin yang mampu membuat alat musik tersebut juga semakin sulit ditemukan.

BACA JUGA...  Di Turki, Irwandi Tawarkan Sejumlah Peluang Investasi

Gegedem merupakan alat musik membranofon yang dimainkan dengan cara dipukul. Dalam pertunjukannya, alat ini dapat dimainkan bersama perangkat musik tradisional Gayo lainnya, seperti canang, memong dan gong.

Bagi masyarakat Gayo, Gegedem bukan sekadar alat musik.

Di balik bentuk dan bunyinya tersimpan pengetahuan, sejarah dan bagian dari perjalanan kebudayaan masyarakat dataran tinggi tersebut.

BACA JUGA...  Eks Telkom Aceh Gelar Pertemuan Raya, Kumpul Dana Rehab Rumah Masyarakat

Dari Ruang Adat hingga Genderang Perang

Jejak Gegedem bahkan dikaitkan dengan sejarah Kerajaan Lingga di Tanah Gayo.

Dalam tradisi sejarah setempat, alat musik ini disebut telah digunakan sejak masa pemerintahan Raja Sengeda, sekitar abad ke-16.

Pada masa itu, fungsi Gegedem tidak terbatas pada kegiatan kesenian dan upacara adat. Bunyi pukulannya juga dikaitkan dengan penggunaan sebagai genderang perang untuk membangkitkan semangat dan keberanian pasukan.

BACA JUGA...  Masjid Agung Nurul Makmur: Benteng Harapan Warga Aceh Singkil Kala Tsunami 2005

Berita Terkait

Si Dalupa, Teater Bertopeng Aceh Barat yang Tetap Hidup di Tengah Zaman
Rapai Geurimpheng, Seni Tradisi Aceh yang Menyatukan Bunyi, Gerak dan Syair
Likok Pulo: Ketika Syair, Gerak dan Nilai Islam Menyatu dalam Tari
Dikee Pam Aceh Jaya: Warisan Syair Maulid yang Tak Lekang Zaman
Di Balik Gerak Tari Bines, Tersimpan Syair dan Nasihat dari Tanah Gayo
Tari Dampeng Singkil, Ketika Gerak dan Musik Mengiringi Langkah Pengantin
Di Balik Tiang dan Ukiran, Ada Jejak Peradaban Rumoh Aceh
Rabbani Wahed: Energi Gerak, Lantunan Dzikir dan Warisan Budaya Aceh

Berita Terkait

Jumat, 28 Agustus 2026 - 21:33 WIB

Si Dalupa, Teater Bertopeng Aceh Barat yang Tetap Hidup di Tengah Zaman

Kamis, 27 Agustus 2026 - 15:28 WIB

Menjaga Gegedem Tetap Bertalu, Merawat Ingatan Budaya Tanah Gayo

Rabu, 26 Agustus 2026 - 14:21 WIB

Rapai Geurimpheng, Seni Tradisi Aceh yang Menyatukan Bunyi, Gerak dan Syair

Selasa, 25 Agustus 2026 - 22:15 WIB

Likok Pulo: Ketika Syair, Gerak dan Nilai Islam Menyatu dalam Tari

Senin, 24 Agustus 2026 - 18:09 WIB

Dikee Pam Aceh Jaya: Warisan Syair Maulid yang Tak Lekang Zaman

Berita Terbaru

Anggota DPR-RI asal Aceh Muslim Ayub berfoto bersama jajaran Lapas Kelas IIA Banda Aceh, saat kunker ke rumah tahanan itu, Kamis, (3/9/2026).(Foto/mediaaceh.co.id/istimewa).

PEMERINTAHAN

Muslim Ayub Lihat Kondisi Lapas Kelas IIA Banda Aceh

Jumat, 4 Sep 2026 - 17:46 WIB