Jejak tersebut memperlihatkan bahwa fungsi alat musik tradisional dalam kehidupan masyarakat masa lalu jauh lebih luas.
Gegedem hadir dalam berbagai ruang kehidupan—dari kegiatan adat dan hiburan hingga bagian dari sejarah perjuangan masyarakat Gayo.
Seiring perjalanan waktu, penggunaannya kemudian lebih banyak dikenal dalam kegiatan kesenian dan adat.
Namun, perubahan zaman perlahan membuat keberadaannya semakin terpinggirkan.
Ketika Pengrajin Semakin Langka
Persoalan Gegedem bukan hanya soal apakah alat musik itu masih dimainkan.
Ada persoalan lain yang tidak kalah penting: siapa yang akan membuatnya ketika para pengrajinnya semakin sedikit?
Pembuatan alat musik tradisional membutuhkan keterampilan dan pengetahuan yang tidak selalu dapat diperoleh dalam waktu singkat. Bahan, bentuk, teknik pengerjaan hingga karakter bunyi merupakan bagian dari pengetahuan yang biasanya diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Ketika pengrajin berkurang dan tidak ada regenerasi, keberadaan alat musik pun ikut terancam.
Di sejumlah pertunjukan, penggunaan rapai juga semakin sering ditemukan sebagai pengganti Gegedem.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena jika terus berlangsung, bukan tidak mungkin Gegedem hanya akan dikenal melalui cerita atau dokumentasi, sementara bunyinya semakin jarang hadir dalam kehidupan masyarakat.
Bukan Sekadar Alat Musik
Kepala Bidang Bahasa dan Seni Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Nurlaila Hamjah, S.Sos., M.M., mengatakan alat musik tradisional harus dipandang sebagai bagian dari warisan budaya, bukan semata-mata sebagai benda kesenian.
Halaman : 1 2 3 4 5 Selanjutnya















