BANDA ACEH (MA) — Suara rapai bertalu. Gerakan para pemain mengikuti irama dengan kompak. Di sela-sela tabuhan, syair dilantunkan, membawa cerita sekaligus pesan bagi mereka yang menyaksikan.
Begitulah Rapai Geurimpheng, salah satu kesenian tradisional yang tumbuh di kawasan pesisir timur Aceh, termasuk Aceh Utara.
Kesenian ini mempertemukan tiga unsur yang menjadi kekuatan utama seni tradisional Aceh: musik, gerak dan bahasa.
Rapai menjadi sumber irama. Gerakan para pemain membangun dinamika pertunjukan. Sementara syair menjadi medium untuk menyampaikan cerita, nasihat dan nilai-nilai kehidupan.
Karena itu, Rapai Geurimpheng tidak berhenti sebagai tontonan. Di dalamnya terdapat tradisi tutur yang membuat setiap pertunjukan memiliki pesan dan makna.
Dua Belas Pemain dalam Satu Panggung
Dalam satu pertunjukan, Rapai Geurimpheng dimainkan oleh 12 orang.
Delapan orang menjadi penabuh sekaligus penari yang dikenal sebagai aneuk pulot. Tiga orang lainnya berperan sebagai pengiring, sedangkan satu orang bertugas sebagai penyair yang disebut syahi atau syah.
Syahi memiliki posisi penting dalam pertunjukan. Melalui lantunan syairnya, alur cerita dibangun dan pesan disampaikan kepada penonton.
Pertunjukan Rapai Geurimpheng juga memiliki sejumlah tahapan.
Halaman : 1 2 3 4 5 Selanjutnya















