Pementasan diawali dengan salam dan gerakan mengangkat tangan secara serentak kepada penonton yang dikenal sebagai salem aneuk syahi, kemudian dilanjutkan dengan salem akan.
Berikutnya masuk ke bagian cakrum.
Setelah itu, suasana pertunjukan menjadi semakin dinamis. Para pemain menampilkan gerakan yang lebih kuat dan heroik secara serempak mengikuti irama rapai. Bagian ini dikenal sebagai tingkah, yang menjadi salah satu bagian untuk melihat kekompakan antara gerakan pemain dan ritme tabuhan.
Pertunjukan kemudian berlanjut ke bagian kisah.
Di sinilah syahi memainkan peran yang semakin menonjol. Syair yang disampaikan dapat menyesuaikan dengan konteks maupun acara tempat Rapai Geurimpheng dipentaskan.
Sebagai penutup, pertunjukan memasuki bagian yang dikenal sebagai gambus.
Rangkaian tersebut membuat Rapai Geurimpheng memiliki struktur pertunjukan yang tidak hanya mengandalkan kemampuan menabuh rapai, tetapi juga membutuhkan kekompakan, penguasaan gerak dan kemampuan bertutur.
Ketika Syair Menjadi Suara Pesan
Bagi masyarakat Aceh, syair memiliki tempat tersendiri dalam kehidupan budaya.
Ia tidak hanya digunakan untuk memperindah sebuah pertunjukan, tetapi juga menjadi cara untuk menyampaikan cerita, nasihat, nilai agama hingga pesan sosial.
Halaman : 1 2 3 4 5 Selanjutnya















