BANDA ACEH (MA) — Di Aceh, seni dan nilai keislaman tumbuh berdampingan dalam kehidupan masyarakat. Tidak sedikit tradisi yang kemudian menjadikan nilai-nilai agama sebagai bagian dari ekspresi seni.
Salah satunya adalah Tari Rabbani Wahed, kesenian khas Samalanga, Kabupaten Bireuen, yang memadukan gerak tubuh, lantunan syair, dzikir, shalawat, serta irama rebana dalam sebuah pertunjukan yang dinamis.
Ketika para penari bergerak serempak mengikuti irama, pertunjukan ini tidak hanya menghadirkan keindahan visual. Ada pesan tentang kebersamaan, ketauhidan dan nilai spiritual yang ikut disampaikan melalui setiap gerakan dan lantunan.
Nama Rabbani Wahed sendiri memiliki makna yang erat dengan nilai ketuhanan. Rabbani merujuk pada sesuatu yang bersifat ketuhanan, sementara Wahed berarti satu atau Yang Maha Esa.
Makna tersebut menjadi gambaran pesan yang terkandung dalam kesenian ini: mengingat keesaan Allah SWT sekaligus menumbuhkan semangat kebersamaan di tengah masyarakat.
Dalam sejumlah sumber kebudayaan mengenai seni tradisi Aceh, Tari Rabbani Wahed disebut dikembangkan oleh T.M. Daud Gade pada 1989 di Samalanga, Bireuen. Kesenian ini memiliki keterkaitan dengan tradisi Meugrob, yakni kesenian yang dikenal dengan gerakan melompat secara bersama-sama dalam pola yang teratur.















