Pemanfaatan teknologi digital juga dapat membuka jalan baru. Dokumentasi pertunjukan, konten edukasi dan promosi melalui media sosial dapat membuat Rabbani Wahed lebih mudah dikenal oleh generasi muda dan masyarakat di luar Aceh.
Namun, pengembangan tersebut tetap perlu menjaga karakter dan nilai yang menjadi akar kesenian.
Bagi Samalanga dan Kabupaten Bireuen, Tari Rabbani Wahed bukan hanya sebuah pertunjukan. Ia merupakan bagian dari identitas budaya yang memperlihatkan bagaimana masyarakat Aceh merawat hubungan antara seni, tradisi, kebersamaan dan nilai keislaman.
Dari Samalanga, suara rebana, lantunan syair dan gerakan para penari terus membawa cerita tentang warisan budaya yang belum selesai.
Sebab, sebuah tradisi tidak benar-benar hidup hanya karena masih dipentaskan.
Tradisi akan tetap hidup ketika ada generasi yang mau mempelajarinya, memahaminya dan dengan bangga meneruskannya. (ADV)















