Dari akar tradisi tersebut, Rabbani Wahed berkembang menjadi pertunjukan dengan karakter yang kuat. Para penari tampil dalam formasi rapat dan bergerak kompak mengikuti irama serta lantunan yang dibawakan secara bersama-sama.
Ketika Dzikir Menjadi Bahasa Seni
Keunikan Rabbani Wahed tidak hanya terletak pada koreografi. Unsur suara menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pertunjukan.
Para penari melantunkan syair bernuansa Islami, termasuk pujian kepada Allah SWT dan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Lantunan tersebut berpadu dengan pukulan rebana dan gerakan tubuh yang terus bergerak mengikuti irama.
Perpaduan itu menghasilkan suasana yang khas. Penonton tidak hanya disuguhi pertunjukan yang energik, tetapi juga diajak merasakan nuansa spiritual yang menjadi bagian dari identitas kesenian tersebut.
Kepala Bidang Bahasa dan Seni Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Nurlaila Hamjah, S.Sos., M.M., mengatakan Tari Rabbani Wahed merupakan salah satu contoh bagaimana seni tradisi Aceh berkembang dalam lingkungan masyarakat yang kuat dengan nilai-nilai keislaman.
“Tari Rabbani Wahed merupakan salah satu bentuk kekayaan seni tradisi Aceh yang memiliki keunikan tersendiri. Di dalamnya tidak hanya terdapat unsur gerak dan keindahan pertunjukan, tetapi juga syair, dzikir, shalawat serta nilai-nilai kebersamaan dan keislaman yang menjadi bagian dari identitas masyarakat Aceh,” ujar Nurlaila.















