Banda Aceh Dinobatkan sebagai Kota Peduli Sastra

Banda Aceh
Wakil Wali Kota Banda Aceh, Afdhal Khalilullah, menerima Anugerah Cakrawala Penyair Nusantara pada rangkaian Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) XIV Aceh 2026 di Aula Keurukon, Kompleks Istana Wali Nanggroe. Foto: Ist

BANDA ACEH (MA) – Upaya Pemerintah Kota Banda Aceh dalam membangun budaya literasi dan menjaga denyut kehidupan sastra kembali menuai apresiasi. Pada ajang Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) XIV Aceh 2026, Banda Aceh menerima Anugerah Cakrawala Penyair Nusantara, penghargaan bergengsi yang diberikan kepada daerah yang dinilai memiliki komitmen kuat terhadap pengembangan sastra, literasi, dan pelestarian kebudayaan.

Penghargaan tersebut diterima Wakil Wali Kota Banda Aceh, Afdhal Khalilullah, mewakili pemerintah kota dalam seremoni yang berlangsung di Aula Keurukon, Kompleks Istana Wali Nanggroe. Penghargaan diserahkan langsung oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI, Abdul Mu’ti, di hadapan para penyair, budayawan, akademisi, dan delegasi dari berbagai daerah serta sejumlah negara sahabat yang hadir dalam forum sastra internasional tersebut.

BACA JUGA...  Revitalisasi Pekan Peunayong: Antara Impian dan Kenyataan

Penganugerahan ini menjadi pengakuan atas konsistensi Banda Aceh dalam menjadikan literasi dan kebudayaan sebagai bagian penting dari pembangunan kota. Di tengah arus modernisasi dan perkembangan teknologi yang begitu cepat, Banda Aceh dinilai mampu menjaga ruang tumbuh bagi sastra, seni, dan tradisi intelektual yang telah lama menjadi bagian dari identitas masyarakat Aceh.

Usai menerima penghargaan, Afdhal Khalilullah menyampaikan rasa syukur atas apresiasi yang diberikan kepada Banda Aceh. Menurutnya, penghargaan tersebut merupakan hasil kerja kolektif masyarakat, komunitas literasi, pegiat seni, budayawan, akademisi, dan pemerintah yang selama ini terus merawat ekosistem kebudayaan di ibu kota provinsi.

BACA JUGA...  Inilah Isi Deklarasi untuk Pancasila yang Dibacakan oleh Mahasiswa Aceh

“Penghargaan ini bukan sekadar simbol penghormatan, tetapi juga amanah untuk terus menjaga semangat literasi dan kebudayaan yang hidup di tengah masyarakat. Sastra mengajarkan kepekaan, memperkuat karakter, dan menjadi jembatan yang menghubungkan masa lalu, masa kini, serta masa depan,” ujarnya, Senin (22/6/2026).

Ia menegaskan, Pemerintah Kota Banda Aceh akan terus membuka ruang kolaborasi bagi komunitas sastra, pegiat seni, dan generasi muda agar semakin banyak karya kreatif lahir dari daerah ini. Dukungan terhadap kegiatan literasi dan kebudayaan dinilai penting untuk memperkuat kualitas sumber daya manusia sekaligus menjaga warisan peradaban Aceh.

BACA JUGA...  Pelajar SMA Negeri 7 Banda Aceh Meraih Juara Penelitian Internasional

PPN XIV Aceh 2026 sendiri menjadi salah satu forum sastra terbesar di kawasan Nusantara yang mempertemukan penyair dari berbagai daerah dan negara. Selain menjadi ruang pertukaran gagasan, forum ini juga memperkuat jejaring kebudayaan lintas bangsa melalui bahasa, sastra, dan karya kreatif.

Anugerah Cakrawala Penyair Nusantara menegaskan bahwa Banda Aceh tidak hanya membangun kota melalui infrastruktur dan ekonomi, tetapi juga melalui penguatan nilai-nilai budaya, literasi, dan peradaban. Dari kota yang dikenal sebagai Serambi Mekkah ini, sastra terus hidup sebagai denyut yang menjaga identitas, memperkaya pemikiran, dan menerangi masa depan generasi penerus. (MTU/R)