Pertunjukan dapat didokumentasikan dalam bentuk video, diperkenalkan melalui media sosial, maupun dikemas menjadi konten kreatif yang dapat menjangkau penonton lebih luas.
Nurlaila mengatakan generasi muda memiliki peluang besar untuk ikut memperkenalkan seni tradisional melalui ruang digital.
“Generasi muda sekarang memiliki ruang yang sangat luas untuk memperkenalkan seni tradisi melalui media digital. Seudati bisa hadir di panggung pertunjukan sekaligus diperkenalkan melalui dokumentasi dan konten kreatif. Yang penting, pengembangannya tetap menghormati bentuk dan nilai budaya yang menjadi akar kesenian tersebut.”
Pada akhirnya, Seudati bukan hanya tentang delapan laki-laki yang bergerak dalam satu formasi.
Ia adalah seni tubuh, seni syair sekaligus seni kebersamaan yang lahir dari perjalanan panjang masyarakat Aceh.
Hentakan kaki menjadi ritme. Tepukan tangan dan dada menjadi bunyi. Syair menjadi pesan. Sementara kekompakan para penari menjadi kekuatan pertunjukan.
Semua berpadu menjadi satu bahasa seni yang khas.
Selama gerakan itu masih diwariskan, selama syair masih dilantunkan, dan selama masih ada generasi yang bersedia mempelajarinya, Seudati akan terus menjadi salah satu suara penting dari kebudayaan Aceh. Adv















