Hari ini Aceh kembali dikhianati—sekali lagi. Dengan skenario licik yang diarahkan lewat tangan Tito, seolah untuk membayangi pemerintahan Prabowo dan menegaskan narasi bahwa hanya pusat (melalui menteri loyal) yang bisa jaga stabilitas. Itu tidak cukup. Tidak adil. Tidak pantas.
Kami tidak ingin senjata. Kami tidak ingin perang. Tapi kami ingin sebuah kepastian—bahwa Aceh dihormati sebagai sahabat bangsa. Bahwa masa lalu sudah selesai, dan janji golden-era damai benar ditepati.
Bila ini tidak dihentikan, Aceh tidak akan diam. Karena kesabaran bukan berarti pembiaran. Luka bisa ditutup, tapi jika dibuka dengan cara licik, ia bisa meledak lagi. (*)
Penulis : Sulaiman Manaf Ketua Laskar Panglima Nanggroe















