Pulau Itu Bukan Sekadar Administrasi: Luka Aceh Tak Pernah Pudar

Kamis, 12 Juni 2025

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Luka yang Tak Terhapus

Aceh punya sejarah panjang yang penuh darah dan air mata—zagresif, tapi bukan kali ini saja. Sejak era pemberontakan DI/TII (1953–1962), Daud Beureueh diganyang karena menuntut janjinya otonomi pasca-kemerdekaan. Itu awal luka sejarah.

Kemudian masa DOM (1990–1998). Human Rights Watch menyebutnya “dirty war”, dengan 9.000–12.000 korban jiwa, termasuk warga sipil, serta penghilangan paksa, pemerkosaan, dan hukuman mati di luar proses hukum . Asia–Pacific Solidarity Network menyebutkan 871 korban tewas, 387 hilang, dan ratusan penyiksaan dalam tiga tahun awal DOM .

BACA JUGA...  Hilangnya Teuku Raja Itam: Tragedi Ulee Balang Terakhir di Tengah Revolusi Sosial Aceh

Dalam situasi itu, bahkan memenuhi meriam saat Hari Kemerdekaan bisa berarti risiko kematian. Hari tua di desa menjadi siksaan—anak-anak kehilangan masa depan, keluarga tercerai karena trauma. Itu Aceh.

Tragedi Simpang KKA, 3 Mei 1999: 52 warga sipil damai ditembak dead-on, seperti eksekusi massal . Lalu Darurat Militer 2003–2004: Amnesty dan KontraS mencatat ribuan penghilangan, 147 tewas, desa dibakar, paksa KTP merah-putih, dan pengusiran sistematis .

BACA JUGA...  BI Sosialisasikan Ketentuan Lalu Lintas Devisa di Aceh

Aceh pun tidak luput dari kekerasan perusahaan di ladang gas Arun. ExxonMobil dikecam karena menggunakan militer untuk melindungi aset—menurut laporan 2001, membakar desa, memaksa warga, bahkan melecehkan perempuan . Kasus ini selesai dalam tuntutan hukum internasional, bukan keadilan lokal.

Berita Terkait

Korupsi Tak Pernah Kehabisan Pelaku
Menagih Janji “Manis” Bupati Asel:  Antara Beban Moral dan Realita Fiskal
Dari Ruang Curhat
Problem Aceh Selatan, WPR Versus  Tambang Ilegal 
Hari Damai, Bendera, Dan Pertarungan Politik Aceh
Aceh dan Generasi Kedua Perdamaian
Tangsel Darurat Narkoba: Ketika Para Punggawa Pemberantas Narkoba Justru Menjadi Pemakai dan Pengedarnya
Polemik BPJN Aceh, Berbagai Pihak Ajak Kedepankan Solusi untuk Pembangunan Jalan Nasional

Berita Terkait

Selasa, 29 September 2026 - 17:56 WIB

Korupsi Tak Pernah Kehabisan Pelaku

Selasa, 29 September 2026 - 17:40 WIB

Menagih Janji “Manis” Bupati Asel:  Antara Beban Moral dan Realita Fiskal

Sabtu, 12 September 2026 - 09:38 WIB

Dari Ruang Curhat

Rabu, 2 September 2026 - 13:07 WIB

Problem Aceh Selatan, WPR Versus  Tambang Ilegal 

Rabu, 19 Agustus 2026 - 09:46 WIB

Hari Damai, Bendera, Dan Pertarungan Politik Aceh

Berita Terbaru

RAGAM BERITA

Bakal Calon Ketua PWI Aceh Muhammad Saman Lolos Verifikasi SC

Minggu, 25 Okt 2026 - 22:14 WIB

Wakil Bupati Asel H. Baital Mukadis bersama Dandim 0207/Asel Andrino Lubis memberikan motivasi kepada petugas agar penanganan longsor lebih cepat dan sempurna.(Foto/mediaaceh.co.id/istimewa).

PEMERINTAHAN

Longsor Teratasi, Jalur Menggamat – Kota Fajar Lancar 

Minggu, 25 Okt 2026 - 22:09 WIB