Pulau Itu Bukan Sekadar Administrasi: Luka Aceh Tak Pernah Pudar

Kamis, 12 Juni 2025

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Setelah tsunami 2004, MoU Helsinki memberi harapan. Tapi eksekusi kesepakatan lambat, relasi pusat–Aceh tetap timpang. Empat pulau ini jadi indikator apakah janji berubah jadi kenyataan, atau justru tetesan penghinaan tua yang dipoles ulang.

Ada Agenda di Balik?

Tito Karnavian bukan politisi biasa. Ia mantan Kapolri dan kepala anti-teror, yang sangat ahli menggunakan intelijen untuk membentuk opini.

BACA JUGA...  Peran Perempuan untuk Menyelamatkan Ekosistem Leuser

Sebelumnya, ia menciptakan “citra terorisme” dan “radikalisme” atas nama keamanan nasional. Kini, ia membuat narasi baru: “Aceh tidak aman”. Cukup sedikit gesekan—isu pulau disentil, stagnasi publik, rakyat resah—maka pandemi narasi “Aceh bawah pengaruh ekstrem” bisa meluncur viral. Reaksi keras rakyat Aceh akan mudah dikategorikan sebagai “ancaman keamanan”.

Secara psikologis, ia melempar bara ke bahan bakar yang mengering. Aceh sudah menderita lalu ditenangkan dengan senyuman diplomasi—sekarang, luka lama dibuka lagi. Dan bila ujungnya adu domba, bukan seumpama, tapi kenyataan, maka status UNECE (negeri damai) akan dipertanyakan. Ini teknik yang biasa digunakan dalam operasi intelijen: ciptakan masalah, lalu kemudian tangani—dengan dalih “keamanan”.

BACA JUGA...  Aceh Jangan Berunding, Maling Akan Tetap  Balas dengan  "Air Kencing"

Secara pers dan birokrasi, penanganan isu ini dilekatkan pada nama Tito: “Menteri dalam Negeri menuntaskan konflik Aceh”. Padahal, yang terjadi adalah misi stabilisasi politik—untuk membayangi popularitas Prabowo di daerah. Tito ingin narasi dikendalikan, bukan Pro-Aceh. Pola lama yang dipakai untuk membendung aspirasi rakyat.

Berita Terkait

Hari Damai, Bendera, Dan Pertarungan Politik Aceh
Aceh dan Generasi Kedua Perdamaian
Tangsel Darurat Narkoba: Ketika Para Punggawa Pemberantas Narkoba Justru Menjadi Pemakai dan Pengedarnya
Polemik BPJN Aceh, Berbagai Pihak Ajak Kedepankan Solusi untuk Pembangunan Jalan Nasional
Masa Depan Tata Kelola Media Massa dan Tantangan Disrupsi Digital
Sipilisasi Polri dan Jalan Panjang Reformasi yang Terlupakan
Menggugat Arus Modernisasi: Menjaga Muruah Adat Aceh yang Mulai Terkikis
Di Bawah Bayang Disrupsi Digital, Pers Tetap Menjadi Ruang Verifikasi Publik

Berita Terkait

Rabu, 19 Agustus 2026 - 09:46 WIB

Hari Damai, Bendera, Dan Pertarungan Politik Aceh

Senin, 17 Agustus 2026 - 17:55 WIB

Aceh dan Generasi Kedua Perdamaian

Senin, 27 Juli 2026 - 20:02 WIB

Tangsel Darurat Narkoba: Ketika Para Punggawa Pemberantas Narkoba Justru Menjadi Pemakai dan Pengedarnya

Kamis, 2 Juli 2026 - 12:05 WIB

Polemik BPJN Aceh, Berbagai Pihak Ajak Kedepankan Solusi untuk Pembangunan Jalan Nasional

Kamis, 11 Juni 2026 - 16:14 WIB

Masa Depan Tata Kelola Media Massa dan Tantangan Disrupsi Digital

Berita Terbaru

RAGAM BERITA

SPS Aceh Bersama Pikiran Rakyat Gelar UKW di Aceh

Kamis, 27 Agu 2026 - 14:02 WIB

PEMERINTAHAN

Pemprov Aceh Terima Catatan DPRA untuk Evaluasi APBA 2025

Kamis, 27 Agu 2026 - 02:43 WIB

Bupati Aceh Utara Ayah Wa.

PEMERINTAHAN

Ayah Wa Hapus Denda PBB 100 Persen

Rabu, 26 Agu 2026 - 17:43 WIB

POLITIK

Intelijen Aceh Waspadai Aksi Desember 2026

Selasa, 25 Agu 2026 - 16:16 WIB