Oleh: Muhammad Ali Akbar, S.Pd.I., M.Pd.I.
TAHUN baru Islam yang diperingati setiap tanggal 1 Muharram bukan sekadar pergantian waktu dalam sistem kalender Hijriyah, melainkan menjadi titik tolak penting bagi umat Islam untuk melakukan muhasabah atau evaluasi diri secara mendalam.
Pergantian tahun hendaknya tidak disambut hanya dengan seremoni dan ucapan, tetapi menjadi ruang kontemplatif untuk meninjau kembali kualitas hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan lingkungan sekitar.
Dalam konteks spiritualitas Islam, evaluasi diri merupakan bagian integral dari upaya menuju pribadi yang lebih bertakwa.
Hal itu, sejalan dengan firman Allah SWT dalam QS. Al-Hasyr ayat 18:
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr: 18). Ayat ini menjadi panggilan yang kuat bagi setiap umat Muslim untuk menilik kembali amal dan perbuatannya, serta memproyeksikan perbaikan untuk masa depan.
Evaluasi ini, bukan hanya bersifat ritualistik, tetapi mencakup dimensi moral, sosial, dan spiritual secara menyeluruh.




