DESA-DESA YANG TIDAK LAGI SAMA

Muzakir Manaf dan Armia Pahmi Satu Meja, Dalam rapat cepat di posko, dua tokoh itu duduk berdampingan. Tidak ada formalitas besar. Mereka bicara dengan suara serak, saling menimpali data, saling memeriksa ulang laporan.

Wartawan yang hadir mengatakan; “Itu bukan rapat politik. Itu rapat orang-orang yang sedang mencoba mencegah rakyatnya tenggelam dua kali—pertama oleh air, kedua oleh kelalaian birokrasi.”

BACA JUGA...  Bupati Apresiasi KPAHM Turut Andil Selamatkan Hutan Aceh Tamiang

Hendra Vramenia; Suara dari Lapangan.

SEMENTARA itu, Hendra Vramenia, warga yang juga jurnalis di PWI Aceh Tamiang, menjadi sumber informasi penting tentang desa-desa terparah.

Dialah orang pertama yang mengumumkan bahwa Desa Sekumur hilang total.

Keterusterangannya membuat laporan pemkab, pemprov, dan pemerintah pusat bergerak lebih cepat.

“Kalau kita tidak teriak, siapa yang dengar?” katanya.

4. Luka-Luka yang Tidak Diucapkan: Trauma, Kesunyian, dan Masa Depan yang Kabur.

BACA JUGA...  Dirjen LIP Puji Peran TA Khalid, Pemulihan Lahan Pertanian Pascabanjir Aceh Digenjot

Ketika posko medis didirikan oleh Kemensos, mereka tidak hanya mengobati luka fisik. Mereka juga menghadapi gejala trauma yang muncul seperti jamur di musim hujan.

Anak-anak yang Takut Air; Ketika relawan membawa ember air untuk mencuci peralatan dapur, beberapa anak kecil langsung menjauh. Seorang anak perempuan berusia 5 tahun menjerit ketika mendengar generator yang tiba-tiba menyala.