Kalimat itu sederhana, tapi di baliknya ada jeritan seluruh desa yang bernasib sama. Dan bupati memahaminya.
Operasi Hari Keempat; Dari Evakuasi ke Rehabilitasi Cepat.
PUKUL 07.12 pagi, di posko utama BPBD, Armia Pahmi memimpin rapat yang lebih mirip operasi militer logistik ketimbang rapat pemerintahan.
Ia membuka dengan satu kalimat tegas:
“Mulai hari ini, target kita bukan sekadar bertahan. Target kita mempercepat pulihnya perut, rumah, dan hati rakyat.”
Instruksi yang dibagikan hari itu mencakup lima fokus besar;
1. Distribusi logistik berbasis kebutuhan, bukan jumlah.
Tidak semua desa butuh hal yang sama. Ada yang butuh pangan, ada yang butuh selimut, ada yang butuh obat-obatan antidiarrhea.
2. Pemetaan cepat infrastruktur rusak. Bupati meminta laporan real-time dari tiap kecamatan untuk memprioritaskan akses yang harus dibuka dalam 24 jam.
3. Pembersihan jalan utama dengan kombinasi alat berat dan relawan.
4. Pendirian dapur umum terkoordinir.
5. Pendampingan psikososial untuk anak-anak. Karena trauma banjir sering meninggalkan luka yang tak terlihat.
Semua bergerak serentak. Semua saling menambal kekurangan. Dan semuanya dimulai dengan satu langkah; turun ke lumpur.




