DESA-DESA YANG TIDAK LAGI SAMA

Dan itulah mengapa pekerjaan paling berat bukan menyelamatkan ribuan orang saat banjir.

Pekerjaan paling berat adalah menyelamatkan generasi berikutnya dari banjir yang sama. Atau yang lebih parah.

DI BALIK LUMPUR; JEJAK-JEJAK YANG TAK TERLIHAT DAN PERTARUNGAN MEREBUT WAKTU

KETIKA air mulai surut pada hari keempat, Aceh Tamiang tampak seperti daerah yang baru keluar dari sebuah perang sunyi. Tidak ada ledakan. Tidak ada tentara. Tidak ada garis musuh.

BACA JUGA...  Aceh Tamiang Jadi Ruang Belajar Kepemimpinan Nasional Pascabencana

Tapi kehancurannya nyata: rumah-rumah miring, jalan menganga, jembatan terputus, dan aroma lumpur yang menusuk seperti luka yang belum sempat dibersihkan.

Bencana banjir bandang mungkin hanya berlangsung beberapa jam, tapi efeknya merembes ke setiap sudut kehidupan.

Di jam-jam inilah ujian paling berat sebenarnya dimulai.

Pulau-Pulau Kecil di Tengah Lumpur.

SETELAH hari-hari pertama yang fokus pada penyelamatan nyawa, kini yang tersisa adalah ratusan keluarga yang harus kembali ke rumah yang tidak lagi utuh. Ada yang kehilangan dinding, ada yang kehilangan atap, dan ada yang kehilangan ketiganya sekaligus.

BACA JUGA...  Sawit Dalam Pengawasan

Di Desa Teluk Halban, seorang ibu bernama Nurlela berdiri memandang tiang rumahnya yang tinggal tiga buah. “Saya tidak tahu dari mana harus mulai. Tapi anak-anak harus makan, bgnda. Kami tidak bisa menunggu lama.