Sejarah Selalu Ditulis oleh yang Berkuasa

Sejarah Selalu Ditulis oleh yang Berkuasa.

“Sejarah tidak pernah netral. Ia selalu ditulis dari posisi kekuasaan. Tugas sejarawan adalah membongkar, bukan mengabadikan, narasi penguasa.”

[Dr. Usman Lamreung, M.Si. Direktur Lembaga Emirates Development Research (EDR)].

DI RUANG kerjanya yang sederhana di Banda Aceh, Dr. Usman Lamreung, M.Si, duduk di hadapan rak buku yang penuh dengan literatur filsafat dan sejarah. Di antara tumpukan karya Michel Foucault dan Hayden White, ia berbicara dengan nada tenang, tapi tegas.

BACA JUGA...  Membangun Ekonomi Daerah Dengan Koperasi

“Penulisan sejarah tidak pernah netral,” katanya memulai percakapan. “Ia selalu terjerat dalam jaring kekuasaan, ideologi, dan kepentingan politik.”

Sejarah sebagai Arena Kekuasaan.

USMAN mengutip pemikiran Foucault, bahwa sejarah bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan arena pertarungan wacana.

Di sana, kekuasaan tak hanya menindas, tapi juga memproduksi kebenaran. “Siapa yang berkuasa, dialah yang menentukan apa yang disebut ‘kebenaran historis’,” ujarnya.

BACA JUGA...  SAYA BERSUMPAH PASTI ADA DI SINI!

Menurutnya, anggapan bahwa sejarah adalah rekaman objektif masa lalu telah lama runtuh. “Hayden White sudah mengingatkan, sejarah itu narasi [bukan fakta murni,” tambahnya]. “Penulis sejarah memilih diksi, simbol, dan kerangka berpikir yang semuanya sarat nilai dan ideologi.”