3. Para Pemimpin Turun ke Lumpur; Antara Panggung Politik dan Panggilan Nurani
Ketika air surut, barulah terlihat siapa pemimpin yang bekerja untuk kamera, siapa yang bekerja untuk rakyat, dan siapa yang bekerja tanpa peduli siapa yang melihat.
Bupati Armia Pahmi; Ia datang ke setiap pos pengungsian, terkadang tanpa ajudan, dengan sepatu yang bercampur lumpur sampai mata kaki.
Ia tidak memberikan pidato panjang; ia memilih bertanya langsung kepada perempuan yang memasak di dapur umum, kepada petani yang kehilangan sawah, kepada anak-anak yang kehilangan rumah.
Di posko Karang Baru, seorang warga berkata; “Bupati datang dua kali. Pertama waktu air masih deras, kedua waktu air surut. Dia tidak hanya periksa, tapi angkat sendiri karung beras dari truk. Saya lihat.”
Seorang relawan menambahkan; “Ini pertama kali saya lihat bupati menggendong lansia dari boat. Bukan simbolis. Betul-betul menggendong.”
Dalam politik Aceh yang penuh konflik panjang dan tumpang tindih kepentingan, gesture semacam ini langsung mencuri perhatian publik. Tidak ada kamera. Tidak ada tim dokumentasi. Tapi cerita-cerita itu menyebar lebih cepat dari foto apa pun.
Gubernur Aceh Muzakir Manaf [Mualem], Pasca banjir, Mualem datang kembali pada siang hari untuk memastikan distribusi bantuan berjalan. Dengan gaya khasnya yang keras namun hangat, ia memeluk beberapa warga dan mendengarkan keluhan mereka.
“Aneuk Aceh kuat. Tapi kali nyan berat le. Lon hanjeut hana teuka,” katanya saat melihat Sekumur hilang.
Ia memerintahkan jajarannya untuk membuka pos air bersih di tiga titik, serta mempercepat perbaikan listrik. Warga merasa sedikit lega—bukan karena listrik akan kembali cepat, tetapi karena pemimpin teratas provinsi datang melihat sendiri kenyataan pahit yang mereka hadapi.




