Angkanya disebut mencapai puluhan miliar rupiah. Namun akuntabilitasnya nyaris tak terdengar. Program demi program diluncurkan. Spanduk dan jargon menghiasi seminar. Tapi di lapangan, chainsaw tetap berbunyi.
Kritik makin tajam ketika menyentuh proyek penangkaran badak di Pantai Bidari, Rantau Panjang, Kecamatan Simpang Jernih, Aceh Timur.
Apakah kawasan KEL di sekitar lokasi itu benar-benar terlindungi dari pembalakan liar? Apakah proyek konservasi berjalan seiring perlindungan ekosistem, atau hanya menjadi etalase donor?
LembAHtari menilai, LSM-LSM besar ini perlu diaudit secara sosial—bukan untuk membungkam, melainkan untuk memastikan bahwa dana konservasi benar-benar berbanding lurus dengan perlindungan hutan. Tanpa audit, publik hanya disuguhi narasi penyelamatan tanpa bukti nyata.
Ironisnya, di saat sebagian LSM nasional sibuk dengan jargon, komunitas lokal di Aceh Tamiang justru menggagas inisiatif berbasis akar rumput. Mereka berbicara tentang Kabupaten Lestari, Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL), hingga konsep ekonomi hijau yang kontekstual.
Namun upaya ini kerap kalah gaung oleh proyek-proyek besar yang lebih piawai menjual isu.
Bagi warga korban banjir, semua perdebatan itu terasa jauh. Yang mereka tahu, air datang membawa kayu. Rumah hancur. Sawah tertimbun. Anak-anak berhenti sekolah. Negara hadir dengan bantuan darurat, tetapi belum dengan kejujuran tentang sebab musabab bencana.
Halaman : 1 2 3 4 5 Selanjutnya















