ACEH TAMIANG SEPERTI TUBUH YANG DIPAKSA TERSUNGKUR

Foto Ilustrasi digital art.

“Tidak ada satu pun yang luput, Pak Menteri, bahkan gedung pemerintahan ikut hanyut,” ujar Armia dengan tawa getir. Ia menyebut banjir tahun ini adalah yang terburuk dalam 50 tahun terakhir, bukan hanya dari luas wilayah yang terdampak, tetapi dari kedalamannya yang hampir tidak masuk akal.

SUBUH itu, 27 November 2025, Aceh Tamiang seperti tubuh yang dipaksa tersungkur. Sungai-sungai yang dahulu jinak menjelma naga kecokelatan yang bangkit dari tidur panjang.

BACA JUGA...  SAAT NEGARA MENYAPU LUMPUR

Lumpur tebal menempel pada tiang-tiang rumah, meninggalkan garis batas seperti tanda bahwa kemarahan alam kini telah berpindah menjadi peringatan.

Di posko induk, bau kopi yang tak sempat habis bercampur aroma pakaian basah para relawan. Di sudut ruangan, Bupati Aceh Tamiang Irjen Pol (P) Drs Armia Pahmi, MH, berwarna pucat oleh kurang tidur. Tiga hari ia hampir tak meninggalkan lokasi, sejak banjir dan longsor meratakan desa, merenggut rumah, dan menyapu nyawa.

BACA JUGA...  Akibat Cuaca Buruk, Empat WNA Hilang di Pulau Sarang Alu

Kami kehilangan hampir seluruh nadi kabupaten ini,” gumamnya lirih ketika menyambut Menteri Sosial Saifullah Yusuf, 4 Desember 2025. Suaranya parau, bukan hanya karena letih, tetapi karena menahan gelombang emosi.

Pak Menteri, terima kasih. Daerah kami tidak hanya butuh bantuan—kami butuh harapan.” Di meja laporan, angka-angka bencana terpampang bagai daftar kematian;